Interactive OOH: Game Changer untuk Bikin Brand Kamu Ga 'Mati Gaya' di Pinggir Jalan

olehFiryal

Kenapa Rata-rata Iklan Billboard Hanya Disinggahi Mata… Tapi Tak Diingat?

Coba ingat-ingat, seberapa sering kamu melewati ratusan billboard sepanjang bulan ini?
Jujur dari sekian banyak itu, berapa sih yang benar-benar melekat di ingatan kamu?

Nah, ini dia tantangan gede yang banyak brand hadapin skrg. Memang iklan luar ruang (Out of Home / OOH) masih yang terbaik di urusan reach. Tapi kalau buat bikin orang bener-bener ngelus dada? Beuh, makin ke Anda makin gelap!

Menurut saya untuk planning campaign di media baik gedung premium sampai non-premium itu bisa ngeblank. Alasan utama sangat sederhana: iklan itu tidak membuat orang menjadi peduli.

Di sinilah kemudian strategi Interactive OOH Campaign (iklan luar ruang yang interaktif) yang akan datang mengubah aturan main. Dan apabila kita ingin mencari contoh terbaik paling mutakhir bagai­mana sih strategi tersebut bekerja, lihat saja festival musik dunia: Coachella.

Namun sebelum kita membahas ke sana, ada satu pertanyaan yang paling sering asked to me by clients:

"Kalau dengan jenis iklan interaktif, memang efeknya jadi se-berpengaruh itu ya?"

Jawaban singkatnya: Ya, sangat berpengaruh! Tidak hanya dapat membuat orang merasa ingin ikutan nimbrung (engagement), namun juga merubah cara pandang orang terhadap sebuah brand.

Apa Itu Interactive OOH Campaign?

Berbeda dengan billboard konvensional yang hanya visual hasil print visual biasa, iklan OOH interaktif itu seperti “memanggil” orang untuk melakukan sesuatu. Contohnya:

  • Menggunakan sensor gerak
  • Mainkan filter Augmented Reality (AR).
  • Menampilkan konten yang up-to-date secara realtime.

Perbedaannya sangat sederhana:

  • Tradisional OOH = Hanya ditonton pasif (dilewati).
  • Interactive OOH = Mengaktifkan orang untuk aktif mencoba.

Dan saat orang sudah mulai engage, di sinilah memori mereka akan merekam brand tersebut.

Saya sudah sering sekali melihat fenomena ini. Billboard static biasa, mungkin hanya dapat jatah atensi beberapa detik saja. Tapi lain cerita kalau iklan yang dipasang interaktif, orang malah jadi penasaran. Mereka akan mengeluarkan Hp mereka , bahkan terkadang mengajak temannya untuk coba.

Momen “berhenti sejenak” ini sangat berharga. Karena sekarang fokusnya bukan lagi seberapa sering iklanmu dapat terlihat (visibility), tapi seberapa cerdas iklanmu menginterupsikan orang dari aktivitas mereka dengan cara yang menyenangkan.

Psikologi di Balik Suksesnya OOH Interaktif

Baiklah, kita kupas sedikit dari sudut pandang psikologinya. Mengapa orang ingin berinteraksi dengan iklan di ruang publik? Biasanya karena akibat dari tiga hal ini:

    • First item in the list
    • Second item in the list
    • Third item in the list
  • Adanya Hadiah (Reward)
  • Dapat balasan yang menggiurkan, apakah hiburan, informasi penting, bahkan tempat foto yang estetis untuk dipamerkan di media sosial.

  • Validasi Sosial (Social Proof)
  • Kalau lihat ada yang sedang asik mencoba, lainnya pasti berbondong-bondong ikut mengantri.

  • Rasa ingin tahu (Curiosity)
  • Ketika melihat sesuatu yang aneh atau membingungkan, insting manusia adalah mencari tahu jawabannya.

Dengan sendirinya OOH interaktif mengambil unsur motivasi yang ketiga secara bersamaan. Saya sangat sering melihat instalasi iklan yang awalnya hanya dicoba oleh satu orang saja, eh beberapa menit kemudian langsung dikerubuti oleh banyak orang. Bukan karena mereka fans berat brand-nya ya, tapi karena memang dasar manusia yang suka ngikutin tren sekitar.


Coachella: Billboard Jadi Bagian dari Pengalaman Festival

Addison Rae Billboard for Coachella

Coachella bukan hanya sekadar festival musik biasa, Ia sudah menjadi kiblat dalam dunia pop culture. 

Orang-orang yang datang ke sana bukan cuma jadi nonton konser doang buat dijadiin dokumentasi, pamerin outfit di sosmed, dan benar-benar menikmati atmosfir secara keseluruhan mulai dari rangkaian perjalanan ke tempat lokasi (venue).

Ini lah serunya. Billboard-billboard di area Coachella tidak kelihatan seperti iklan komersial yang membosankan

Iklan-iklan di sana sudah jadi bagian dari getaran festival itu sendiri. Contoh-contoh seperti visual kreatif super mencolok dari musisi/influencer besar seperti Addison Rae, Major Lazer dan Sabrina Carpenter.

Eksekusinya tidak tanggung-tanggung, unik, dan menarik perhatian.

Nggak ada tuh yang namanya konsep minimalis atau malu-malu.

Justru itu poin plusnya!

Artwork seperti ini bukan tipe visual yang biasa kamu lihat sewaktu macet-macetan berangkat atau pulang kerja. Iklan di Coachella kesannya lebih megah, akbar, berisik, dan ekspresif, seakan-akan billboard tersebut adalah ekstensi dari konser itu sendiri.

Terus, apa dampaknya? 

  • Orang-orang bakal berhenti
  • Mereka langsung foto dan bikin konten
  • Konten itu akan diunggah lalu disebarkan secara masif melalui sosial media

Lewat cara ini, yang awalnya hanya bisa lihat di jalan menuju venue Coachella, para pengguna internet juga bisa ikut serta menikmati visual billboard meskipun lewat layar ponsel semata.

Target audiensnya bukan lagi sebatas penonton konser Coachella, namun para penggemar di berbagai lokasi juga bisa ikutan nge-hype artwork billboardnya.

Iconic billboard, difoto, disebarkan lewat sosial media, lalu jadi the talk of the town.

Siklus ini akan terus berulang. Satu billboard keren bisa punya potensi viral yang bikin sebuah brand menggema di berbagai lini media. Kalau seperti ini, billboard bukan lagi sekedar papan iklan statis, tapi berubah menjadi bahan topik panas untuk ngonten.


Strategi OOH Coachella yang Bisa Kamu Tiru

While Coachella is snobby, the concept behind the success of their billboards can actually be applied elsewhere, in Indonesia for example

Ini bukan untuk ukuran modalnya yang besar atau ukuran billboard nya, tapi cara dieksekusi ide nya.

Here’s a few things you can steal and practice:

  • Spring Visual Style, Unique but Easy to read
  • Konsep bold dan berbeda itu wajib, tapi jangan sampe hilang kejelasan pesan nya. People should be able to know what the ad means within a couple of seconds.

  • Upgrade Static Billboards with the New 3D Format
  • Nggak semua perlu pake layar digital (videotron) yang mahal kok. Dengan memaksimalkan static billboard, yakni dengan tipe 3 dimensi pada billboard statik menjadikan OOH campaign kamu next level. Semakin unik, semakin beda, semakin menarik perhatian.

  • Third item in the list
  • Apabila sebuah billboard bisa dilihat dengan sangat jelas dari jarak jauh, maka iklan kamu sudah pasti menang satu poin daripada iklan brand lainnya.

    Orang jadi bisa foto iklan kamu dari jauh, bisa punya waktu buat mantengin billboard kamu, dan tentunya punya waktu untuk post billboard kamu di social media.

    Ekstra waktu 1-2 detik untuk melihat billboard kamu bisa punya pengaruh besar loh.

  • Strategi Long Viewing Time dalam Billboard Placement 
  • Sabrina Carpenter Creative Billboard for Coachella - Sabrinawood

    Yang begini pasti jadi hot topic, apalagi di kalangan GenZ.

    Pesan lebih terasa personalized bagi yang baca, iklannya jadi ngena. Ini juga dilakukan oleh Sabrina Carpenter di billboardnya.

    Gimmick pesan, "You're now leaving Sabrinawood" benar-benar menjadikan para pengunjun Coachella merasakan transisi keluar-masuk dari Sabrinawood Universe.

  • Gunakan pesan yang relatable Pesan simpel, tapi relatable.

Untuk brand asal Indonesia yang kiranya mau coba, bisa pilih kalimat yang lucu tapi masih tetap relevan, misalnya:

"Welcoming Kripik Kentang Mantap di Yogyakarta".

Dengan menambah usur kearifan lokal, tipe-tipe iklan seperti ini terbukti sukses.

Selain menarik perhatian mereka yang melewati jalan, juga pasti bisa jadi topik bincang hangat di media sosial. Extra exposure, extra impression, semuanya bisa diborong dalam satu kali ngiklan.


Studi Kasus Campaign OOH yang Membuktikan Kalau Interactive OOH Itu Ampuh

Kita bisa ambil contoh OOH campaign yang sudah berlangsung. Salah satunya adalah dari Spotify.

Mereka memaksimalkan fitur history lagu yang jadi fitur kesukaan user mereka, kemudian ditampilkan pada DOOH.

Para pengguna Spotify jadi bisa lihat lagu yang sedang mereka dengarkan secara real time, sambil melewati iklan OOH dari Spotify.

Seru? Pasti.

Dengan seperti ini, alih-alih nampilin pesan template yang ngebosenin, orang-orang bakal ngeliat tulisan seperti,

"Lagu ini lagi paling banyak diputer di kotamu di jam-jam sekarang, lho."

Pesannya personalized, relatable, seolah-olah Spotify lagi komunikasi langsung dengan user mereka. Pengguna Spotify akan merasa dekat, acknowledged, dan interaksi seperti ini akan sangat sulit di-achieve kalau hanya modal pemasaran lewat channel digital.

Hal lain yang bikin ini works adalah faktor soft-selling dari Spotify. Spotify ga secara tersurat makasa kamu untuk pakai aplikasinya, tapi jadiin kamu —user dan para calon user lainnya— untuk ikut serta merasakan experience menggunakan Spotify.


Alasan Interactive OOH jadi Solusi Efektif untuk OOH Campaign

Beberapa alasan kenapa interactive OOH bisa jadi solusi yang bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan efektivitas OOH campaign, ialah karena:

  • Ad Recall (Daya Ingat)
  • Orang jauh lebih gampang ingat sama hal yang unik, lucu, apalagi yang melibatkan diri mereka.

  • Engagement Time
  • Waktu yang dihabiskan orang buat merhatiin iklan jadi lebih lama.

  • • Social Amplification
  • Potensi untuk menjadi viral di media sosial jauh lebih tinggi.

Dari yang saya perhatikan, kunci utamanya itu ada di rasa penasaran, bukan kecanggihan teknologinya. 

Orang bakal auto-penasaran kalau mereka ngeliat sesuatu yang nggak langsung ketebak maknanya. Di momen "mikir dan berhenti" itulah brand berhasil menangin perhatian mereka.

Bonusnya, OOH interaktif itu punya organic reach (jangkauan organik) yang gede banget. 

Orang bakal sukarela nge-videoin, posting di TikTok/Instagram, terus nge-tag akun brand kamu. Selamat, iklan kamu sekarang nggak cuma mejeng di satu perempatan jalan, tapi udah jalan-jalan ke seluruh linimasa internet!


Tapi Tunggu Dulu, Kapan OOH Interaktif Malah Nggak Cocok?

Nggak semua campaign harus dipaksain interaktif kok. Untuk beberapa tipe iklan, memang seharusnya dibikin sesimpel mungkin untuk menjadikan iklannya efektif.

Contohnya:

  • Jalan Tol/Jalur Cepat 
  • Pasang iklan billboard di jalur tol atau jalur cepat, agaknya kurang oke kalau menggunakan OOH interactive. Menurut saya, lebih baik memakai tipe iklan yang simpel dan clean karena pengguna jalan di sini melaju kencang dan gapunya waktu untuk berhenti. Singkatnya, kalau di area low dwell time, semakin banyak tulisan atau ornamen, malah jadi ga efektif.

  • Campaign Awalan (Basic Brand Awareness)
  • Kalau tujuan kamu untuk ngenalin brand ke market untuk penetrasi sebuah market, memang lebih baik jangan pakai tipe interaktif OOH dulu. Kamu harus bangun brand presence yang kuat, supaya hasil campaign OOH interaktifnya nendang.

  • Budget Terbatas
  •  Nggak usah dipaksain kalau emang alokasi dananya terbatas.
    Saya sering nemuin brand yang maksain bikin iklan interaktif di lokasi yang salah, alhasil performanya malah zonk dan buang-buang dana. Jadi, strategi terbaiknya bukan "pokoknya harus interaktif", tapi tahu kapan momen yang pas buat menerapkannya.


Ini yang Pantang untuk Kamu Lakukan Agar OOH Interaktif Kamu Berhasil

Ga jarang nemuin kasus OOH Interaktif yang saat sudah dijalankan, tidak menghasilkan noise apa-apa. Biasanya karena terjebak masalah klasik ini:

  • Cara Mainnya Ribet (Too Complex)
  • Kalau orang butuh waktu lebih dari 10 detik cuma buat paham cara ikutan interaksinya, mereka bakal langsung males dan milih cabut. Bikin mekanismenya yang intuitif dan simpel aja!

  • Strategi Penempatan Lokasi yang Zonk
  • Ide sekreatif apa pun nggak bakal jalan kalau ditaruh di tempat yang salah. OOH interaktif itu wajib ditaruh di area yang orang-orangnya punya waktu luang (high dwell time), contohnya:

    • Arah pejalan kaki yang ramai
    • Titik kedatangan/transit (bandara, stasiun MRT/KRL, Halte Busway)
    • Zona sekitar diadakannya event besar
  • Tidak Berintegrasi ke Mobile (Smartphone)
  • Hampir semua interaksi fisik ujung-ujungnya harus diarahkan ke HP audiens (misal lewat filter IG, website, atau sosmed). Kalau interaksinya cuma berhenti di papan billboard doang, kamu udah kehilangan setengah dari potensi campaign tersebut.


Cara Mengukur Keberhasilan OOH Interaktif

Menariknya, beda sama OOH tradisional yang susah diukur efektivitasnya secara akurat, OOH interaktif ini metriknya jelas banget. Ini beberapa data yang biasanya saya pantau:

  • Statistik Engagement: Jumlah scan QR code, berapa orang yang mulai berinteraksi, dan durasi mereka di depan iklan.
  • Indeks Perilaku: Kenaikan jumlah pencarian di Google, lonjakan trafik web berbasis lokasi.
  • Amplifikasi Sosial: Konten buatan pengguna (User-Generated Content / UGC), jumlah shares, dan seberapa banyak brand kita dimention.
  • Brand Lift: Seberapa kuat orang mengingat brand kita (recall) dan tingkat ketertarikan mereka buat membeli (consideration).

Dari pengalaman saya pribadi, nambahin satu layer interaksi simpel aja udah bisa ngasih lonjakan engagement yang berkali-kali lipat dibanding billboard static biasa di lokasi yang sama.


Tren yang Bakal Makin Booming ke Depan

Sekarang, OOH bukan lagi sekadar media buat nempel poster digital. Industri ini udah bertransformasi jadi jembatan fisik menuju dunia digital (phygital experience). Ke depannya, kita bakal makin sering nemuin:

  •  Personalisasi iklan yang didukung teknologi AI. 
  • Konten billboard yang berubah otomatis secara real-time sesuai cuaca atau tren.
  • Integrasi yang makin mulus sama ekosistem smartphone.

Jujur aja, audiens zaman sekarang (terutama Gen Z dan Millennials) ekspektasinya makin tinggi. Pajang billboard static yang polosan di lingkungan yang penuh energi kayak festival musik atau pusat kota? Duh, kesannya bakalan kelihatan kuno banget.


Kenapa Harus Bareng Firstboard?

Di Firstboard, kita nggak cuma sekadar jualan slot iklan luar ruang. Kita fokus bikin sebuah pengalaman.

Kita udah berpengalaman di berbagai pasar Asia Tenggara untuk bantuin banyak brand ngubah lokasi padat lalu lintas jadi titik interaksi yang berkesan dan berdampak tinggi. 

Mulai dari pemilihan lokasi yang strategis sampai pengembangan konsep interaktif yang seru, fokus utama kita adalah menghasilkan engagement, bukan sekadar impressions (jumlah tayang) doang.

Karena di akhir hari, cuma sekadar "kelihatan" aja udah nggak cukup lagi buat memenangkan hati konsumen.

Enjoyed this post?

Subscribe to get new posts delivered to your inbox.

Subscribe
Apa sih kunci utama biar OOH interaktif sukses?
Rumusnya ada tiga: Simpel, menarik, dan ada timbal baliknya (rewarding). Orang harus langsung tahu secara insting cara mainnya, dan mereka dapet kepuasan instan setelahnya—entah itu berupa hiburan, info penting, atau konten keren buat di-share.
Berarti biaya produksinya jauh lebih mahal ya dibanding billboard biasa?
Nggak selalu. Biaya setup awal atau produksinya mungkin sedikit lebih tinggi, tapi kalau dihitung dari meroketnya angka engagement dan eksposur gratis dari sosmed (viral effect), jatuhnya justru sering kali jauh lebih hemat biaya (cost-effective).
Lokasi mana yang paling oke buat pasang OOH interaktif?

Tempat-tempat di mana orang emang lagi nongkrong, nunggu, atau jalan santai (high dwell time). Contohnya bandara, stasiun transit, area sekitar venue event, dan kawasan pedestrian yang sibuk. Faktor konteks lokasi jauh lebih penting daripada sekadar jumlah kendaraan yang lewat.

Kalau buat brand kecil yang budget-nya terbatas, bisa gak pakai strategi ini?
Tempat-tempat di mana orang emang lagi nongkrong, nunggu, atau jalan santai (high dwell time). Contohnya bandara, stasiun transit, area sekitar venue event, dan kawasan pedestrian yang sibuk. Faktor konteks lokasi jauh lebih penting daripada sekadar jumlah kendaraan yang lewat.
Bisa banget! Kita tinggal sesuaikan skalanya. Nggak perlu bikin instalasi AR super canggih; pemanfaatan QR code yang dikemas dengan storytelling seru atau penggunaan dynamic messaging (pesan yang dinamis) udah cukup buat bikin audiens tertarik tanpa bikin kantong jebol.

Kalau kamu lagi mikirin konsep buat campaign OOH selanjutnya biar nggak sekadar lewat doang, coba mulai dari satu pertanyaan simpel ini:

"Hal apa yang kira-kira bisa bikin kamu rela berhenti jalan selama 5 detik pas lagi di tempat umum?"

Nah, dari situlah biasanya ide-ide terbaik bakal bermunculan. Yuk, diskusi bareng kita buat eksekusi idemu!

Bagikan: